Semua Obat Bisa Jadi Racun, 4 Hal Ini yang Harus Kamu Perhatikan

"Semua Obat Adalah Racun, yang membedakan hanyalah dosisnya."

Semua Obat Bisa Jadi Racun, 4 Hal Ini yang Harus Kamu Perhatikan TODOS LOS REGALOS ORIGINALES

Line IDN Times

Obat itu racun ? Beneran ? Yuk kenalan sama "Si Pahit Berkhasiat" ini ..

Saat orang disekitar kita sakit, otomatis kita akan bertanya "Sudah minum obat belum ?" Nah, apa sih obat itu sebenarnya ? Definisi obat menurut WHO adalah zat yang dapat mempengaruhi aktivitas fisik dan psikis. Ada beberapa cabang ilmu kefarmasian yang saya pelajari saat di sekolah kejuruan farmasi, diantaranya farmakologi, farmakoterapi, farmakognosi, kimia farmasi dan masih banyak lagi.

Di antara cabang ilmu tersebut, farmakologi-lah yang mempelajari tentang pengaruh obat terhadap tubuh kita dan sebaliknya. Pada dasarnya obat adalah bentuk dari sebuah senyawa kimia, dan seorang farmasis tahu betul jika "obat adalah racun", jangan heran jika kalimat itu digunakan sebagai prinsip dasar kerja mereka agar lebih berhati-hati. Berarti, minum obat bahaya dong ? Eits .. jangan nething dulu ya, di bawah ini ada 4 hal yang harus kamu perhatikan dalam penggunaan obat-obatan.

1. Dosis Obat yang Tepat

Sebenarnya simpel, bedain obat dan racun itu cuma di takaran dosisnya. Ada beberapa macam dosis, biasanya kita memakai dosis lazim yaitu dosis yang sering diberikan berdasarkan petunjuk umum suatu obat tertentu.

Ada dosis terapi, minimum-maksimum, dan ada juga dosis yang harus diwaspadai lho! Yaitu dosis toksik (menimbulkan keracunan) dan dosis letalis (menimbulkan kematian). Jadi, saat kamu sakit dan harus minum obat, yang paling utama jangan sampai lupa tanyakan dosis/aturan pakainya, ya.

2. Efek Samping Obat (ES)

Yang harus di garis bawahi ialah semua obat yang masuk dalam tubuh pasti punya pengaruh, dan efek obat itu ada 2 macam: efek terapi (efek yang diinginkan) dan efek samping (efek yang tidak diinginkan). Kalau kalian beli obat di apotek coba lihat deh, biasanya ES obat sudah ada di brosur atau kemasannya.

Contohnya nih, bikin ngantuk, mual, pusing, mulut kering dan alergi. Efek samping itu bisa dari faktor pasien seperti umur, genetik (kecenderungan untuk alergi) dan penyakit yang diderita. Sedangkan dari faktor obat yang dikonsumsi seperti pemilihan obat, jangka waktu penggunaan dan interaksi antar obat bila dikonsumsi bersamaan. Jangan remehkan ya masalah ini, karena ada ES obat yang cukup berat seperti nyeri lambung, gangguan pernafasan juga. Ada baiknya konsultasikan ke dokter, apoteker atau tenaga teknis kefarmasian yang kalian percaya, mudah kan?

3. Informasi Tambahan Obat

Biasanya waktu penyerahan obat ke pasien, ada beberapa obat yang diberi penjelasan khusus. Misalnya, Rifampicin (Antibiotik dalam pengobatan TBC yang menyebabkan urin berwarna merah),obat yang pemakaiannya bukan diminum (Seperti Injeksi/Suntikan),Suppositoria (Rektal/dimasukkan dalam dubur),Ovula (Vaginal/dimasukkan dalam vagina),dan obat golongan antibiotik walaupun sudah sembuh harus dihabiskan minimal 3-7 hari atau lebih sesuai dengan penyakit yang diderita.

Informasi tambahan dapat juga berupa label seperti "Kocok dahulu", "Obat Luar", "Buang sisa obat ... hari setelah pembukaan", dan sebagainya. Tujuan disampaikannya informasi ini agar pasien menggunakan obat sesuai peruntukannya, coba bayangin ..  Nggak lucu kan semisal obat bentuk sediaan suppositoria malah diminum? 

4. Penyimpanan Obat

Secara umum, obat disarankan disimpan pada tempat yang sejuk, kering dan terlindung dari cahaya (artinya obat disimpan di suhu kamar). Simpanlah obat sesuai petunjuk yang tertera misalnya "Simpan pada suhu ruang" (sekitar 15⁰ - 30⁰ C),"Simpan dibawah suhu 30⁰ C", dan biasanya disertai peringatan "Jauhkan dari jangkauan anak-anak".  Baiknya juga simpanlah obat pada kemasan aslinya karena disitu ada keterangan penting seperti aturan pakai dan tanggal kadaluwarsa, terutama untuk obat mata berbentuk minidose.

Sedikit cerita ya, di apotek saya, sering orang nanya "Boleh nggak mbak sirupnya disimpan di kulkas atau freezer aja? Tahan sampai berapa lama biasanya?" Oh iya... seperti penjelasan di atas, obat harus disimpan sesuai petunjuk yang tertera, begitu juga dengan sirup.

Memang ada beberapa obat yang penyimpanannya memerlukan suhu dingin seperti di kulkas, namun jangan simpan obat di freezer ya karena suhu yang terlampau dingin bisa merusak stabilitas obat. Umumnya obat berbentuk sirup dapat dipakai kembali maksimal 1 bulan setelah kemasan dibuka, dengan catatan cara penyimpanan baik dan benar serta obat tidak mengalami perubahan bau, rasa, warna ataupun tekstur. Berbeda dengan sirup berisi antibiotik (sirup kering) tidak boleh disimpan lebih dari 7 hari setelah dilarutkan dengan air.

Nah, demikianlah 4 hal yang harus kamu perhatikan ketika menggunakan obat-obatan. Semoga kita bisa lebih bijak dalam menggunakan obat. Salam sehat!

Martha Alifiana

Seorang Assisten Apoteker sekaligus mahasiswa yang merantau di Bali. Hidup adalah perjuangan, so .. never settle for less than you deserve.

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Read More
ARTIKEL REKOMENDASI